Kamis, 24 Mei 2012

SUASANA TAMAN KAMPUS AKPAR MATARAM

Teman-teman dalam kesempatan kali ini saya akan memberikan gambaran tentang suasana taman kampus Akpar Mataram dimana suasana yang hijau nan asri dengan ditanami bunga-bunga dan pepohonan layaknya sebuah hutan kecil ditengah kota yang memberikan nuansa segar dan kesejukan dalam proses perkuliahan 
sperti terlihat di photo dibawah ini 


Taman yang ada bisa dimamnfaatkan sebagai tempat bersanatai pada saat waktu istirahat dengan hembusan angin yamg sejuk membuat kita ngantuk pingin tidur tapi ingat jangan sanpai tertidur nanti lupa akau kita sedang ada perkuliahan
Jadi teman-teman inilah susana taman kampus Akapar yang harus kita jaga baik dari segi kebersihan dan keamanan dari tanaman-tyanaman bunga yang ada.
Kampus Akpar mempunyai lapangan yang cukup luas yang bisa dimanfaatkan untuk joging ataupun senam dijamin tidak terlpleset karena 90% lapanagn ditanami rumput yang hiaju seperti pada photo disamping ini, bagaimana hijau apa ndak?  kalau memang penasaran datang langsung ke Kampus Akpar Kami tunggu kedatangan ada.



















Nyongkolan salah satu Icon pariwisata Lombok

Nyongkolan adalah sebuah kegiatan adat yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada suku sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat
kegiatan ini berupa arak-arakan kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik yang bisa gamelan atau kelompok penabuh rebana, atau disertai Gendang beleq pada kalangan bangsawan. Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, tetapi biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita.
Tujuan dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki.

Sebagian peserta dalam prosesi ini biasanya membawa beberapa benda seperti hasil kebun, sayuran maupun buah-buahan yang akan bibagikan pada kerabat dan tetangga mempelai perempuan nantinya. Pada kalangan bangsawan urutan baris iring-iringan dan benda yang dibawanya memiliki aturan tertentu.
hingga saat ini Nyongkolan masih tetap dapat ditemui di Lombok, iring-iringan yang menarik masyarakat untuk menonton karena suara gendangnya ini biasanya diadakan selepas dhuhur di akhir pekan. apabila anda melakukan perjalanan antar kota do Lombok, maka bersiaplah untuk menghadapi kemacetan insidental akibat Nyongkolan yang dapat anda temui sepanjang jalan, apabila di kahir pekan tersebut banyak digelar pernikahan.

Air terjun Benang Kelambu


Lokasi Air Terjun Benang Kelambu terletak berdekatan dengan Air Terjun Benang Stokel, Tepatnya di Desa Alik Berik, Kecamatan Batu Kliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, 
Dinamakan air trjun Benang Kelambu karena airnya mengalir dari celah-celah dedaunan yang tumbuh disekitar air yang mengalir sehingga dinamakan air terjun benang kelambu yang meneyerupai gorden, kelambu itu dalam bahasa sasak yang artinya gorden 
Air Terjun benang kelambu ini dilihat dari airnya yang bersih dan sejuk karena airnya tersebut berasal dari dalam tanah yang bersumber dari gunung Rinjani, tidak ada salahnya bagi kita tidak berkunjung ketempat ini, dari segi tempatnya memang terlihat tidak begitu rapi karena belum ditata namun kesejukan yang dimiliki tidak akan berkurang, karena infra strukrturnya masih kuarang memadai.Disinilah perannya pemerintah untuk mengembangkan keberadaan Air Terjun benang stokel agar ramai dikunjung oleh wisatawan lokal maupun domistik sebab akan menambah pendapatan devisa daerah teresebut, mari kita dukung bersama.

Kamis, 31 Maret 2011

Desa Sade/ sasak vilage

Desa Sade terletak kurang lebih 90 km dari arah tenggara kota Mataram, merupakan salah satu desa tradisional di pulau Lombok yang banyak menarik wisatawan baik manca maupun domestik untuk datang berkunjung.
Desa Sade mayoritasnya penduduknya berfropesi sebagi petani yang sebagi salah satu simbulnya adalah adanya lumbung padi yang digunakan sebagai gudang menyimpan padi hasil panen, dibawah ini photo Lumbung padi

Masyarakatnya terbagi menjadi 7 RT dengan jumlah KK sebanyak 152 KK, sebuah angka yang kecil untuk jumlah penduduk dalam tingkatan desa, apalagi jika dibandingkan dengan wilayah tempat tinggal saya dimana dalam 1 RT memiliki 90 KK.
Bisa dibayangkan bagaimana penuhnya satu rumah ketika mengadakan pertemuan rutin warga di tingkat RT dan sangat tidak efektif ketika akan mencari kesepakatan.
Begitu memasuki gerbang masuk desa kita akan disambut oleh pemandu yang akan menawarkan jasa untuk mengantar mengelilingi desa, tidak ada tarif yang ditentukan kita cukup mengisi buku tamu dan memasukkan donasi berupa uang seikhlasnya ke kotak yang bentuknya sama dengan kotak amal di masjid-masjid.
Lingkungan permukiman di desa Sade terbagi menjadi 3 ruang, ruang penerima terdiri dari pelataran sebagai tempat pertunjukkan kesenian tradisional untuk menyambut tamu, kemudian ada berugak berukuran besar berfungsi sebagai ruang pertemuan masyarakat yang dilengkapi dengan papan-papan pengumuman maupun data monografi.
Selain itu juga ada ruang pameran hasil kerajinan tangan masyarakat desa Sade.
Kemudian kita akan diajak untuk berjalan menyusuri permukiman masyarakat, dimana topografi wilayah dibiarkan alami sehingga akan banyak ditemui tangga-tangga yang menghubungkan antara cluster rumah yang satu dengan yang lain, karakter rumah yang menghadap ke jalan sudah diterapkan disana.
Infrastruktur jalan berupa jalan paving selebar 1,5m walaupun dibeberapa tempat masih berupa jalan tanah.
Arsitektur bangunan suku Sasak yang tinggal di desa Sade masih sangat tradisional, dengan dinding terbuat dari bambu dan penghawaan sangat minim, interior rumah berupa lantai plester yang menurut cerita orang sana, dulu untuk mengepel lantai rumah masih menggunakan kotoran sapi.
Apa yang ada dalam benak anda ketika mendengar hal tersebut? Bukannya semakin bersih justru akan semakin kotor kan lantainya? Sama seperti yang saya bayangkan.
Atap bangunan sangat tinggi dan terbuat dari ilalang dengan ketebalan kurang lebih 20-30 cm sehingga tidak akan tembus air ketika musim penghujan. Dan ternyata didalamnya kondisi atap yang tinggi juga dimanfaatkan untuk menyimpan barang maupun tidur.
Jangan dibayangkan ada kasur didalamnya, mereka masih menggunakan tikar untuk beristirahat dan menggunakan kayu bakar untuk memasak. Fasilitas KM/WC umum yang sangat sederhana ditempatkan di beberapa titik desa dengan dilengkapi gentong yang dapat digunakan berwudhu karena mayoritas masyarakatnya beragama Islam.
Yang menarik perhatian adalah pintu yang bermacam-macam bentuk dengan sistem geser manual tanpa rel sehingga hanya menggunakan bambu sebagai relnya.
Diantara rumah-rumah terdapat bangunan kecil terbuka seperti los di pasar yang digunakan untuk menjual kain tenun khas desa tersebut, bahkan kita diberi tontongan menarik proses pembuatannya yang masih tradisional.
Selain kain juga banyak ditemui aksesoris gelang, kalung dari bambu maupun batu sekilas sangat mirip dengan aksesoris yang banyak ditemui di sepanjang jalan Malioboro, Yogyakarta.
Dan ternyata dibalik kesederhanaan dan kebudayaan tradisional yang dipertahankan oleh masyarakatnya, sudah ada stakeholder yang ingin berperan serta dalam pengembangan desa Sade salah satunya Philip sebagai produsen lampu yang memiliki jargon ’Terus Terang Philip Terang Terus’.
Philip memberikan bantuan papan informasi dan lampu penerangan di sepanjang jalan lingkungan, sehingga desa Sade mampu menjadi Kampung Terang Hemat Energi Philip.
Semoga modernisasi dan perubahan kehidupan yang cenderung praktis tidak akan mempengaruhi kehidupan tradisional desa Sade yang kaya akan budaya nenek moyang dan patut untuk dilestarikan.